Anak Cerminan Orang Tua

PDFPrintE-mail

Last Updated on Thursday, 10 May 2012 03:13 Sunday, 29 April 2012 23:46

Sebentar lagi hasil akhir anak sekolah akan terungkap. Perjuangan selama satu tahun belajar di sekolah akan ditentukan, apakah layak untuk naik kelas atau lulus dan melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Biasanya pada moment ini orang tua lah yang lebih “agresif” dibandingkan dengan anak yang bersangkutan. Terlebih jika hasil anaknya tidak sesuai dengan harapan, Dimarahi sudah pasti, itu merupakan reaksi awal. Kebanyakan orang tua khususnya ibu, akan merasa malu jika prestasi anaknya memalukan. Mereka malu terhadap teman-temannya, malu terhadap keluarga besarnya dan pastinya takut jika dimarahi suami, karena dianggap tidak mampu mendidik. Tanpa memperdulikan hasil jerih payah yang telah dilakukan anak, hal ini akan sangat mempengaruhi psikologi anak. Anak akan merasa tertekan, dan semakin menguatkan label negatif yang ada pada diri mereka bahwa “sekolah/belajar sangat menyiksa” Mereka akan terpuruk lebih dalam lagi. Prestasi yang tidak sesuai yang orang tua inginkan, bisa jadi sudah diperjuangkan si anak dengan kemampuan dia. Hal ini bisa juga berakibat anak akan melakukan cara apapun agar memperoleh hasil yang diinginkan termasuk dengan cara curang. Hal ini malah menjauh dari tujuan mendidik itu sendiri.

Read more...

 

Rizki, Ikhtiar dan Tawakal

PDFPrintE-mail

Last Updated on Sunday, 29 April 2012 11:52 Sunday, 29 April 2012 11:25

 
 

48 Ribu Tenaga Ahli Indonesia Dimanfaatkan Negara Lain

PDFPrintE-mail

Saturday, 28 April 2012 17:35

E-mail Cetak PDF

Cyber Sabili-Yogyakarta. Sebanyak 48 ribu tenaga ahli berbagai bidang dari S2 (master) hingga S3 (doktor) yang dipersiapkan pemerintah sejak zaman Soeharto oleh Menristek Prof Dr BJ Habibie waktu itu, tidak diketahui lagi keberadaannya. Saat ini, sebagian besar mereka bekerja di beberapa negara Eropa dan Amerika.

“15 Tahun lalu, sebanyak 48 ribu insinyur berbagai bidang seperti ahli penerbangan, kapal laut, dan bidang science lainnya yang kita sekolahkan ke luar negeri itu pada kemana? Tidak banyak yang diketahui sekarang ini,” kata Habibie saat menyampaikan orasi budaya di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di kawasan Tamantirto, Kasihan, Bantul, DIY, Sabtu (5/2/2011).

Menurutnya, sebagian besar dari mereka yang pernah disekolahkan ke luar negeri oleh pemerintah Indonesia, saat ini banyak yang bekerja di luar negeri sebagai tenaga ahli bidang pesawat terbang, perkapalan, dan industri strategis lainnya.

“Kita yang menyekolahkan mereka lima belas tahun lalu, tapi negara lain yang panen. Mereka banyak yang bekerja sebagai tenaga ahli di Eropa, Amerika, bahkan di Brazil,” kata mantan presiden ketiga Indonesia itu.

Habibie hadir dalam acara pembukaan rangkaian acara Milad 30 tahun UMY itu menyampaikan orasinya mengenai strategi pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam persaingan global.

Menurutnya, Indonesia sebagai benua maritim dengan segala kekayaannya itu mempunyai potensi sama dengan negara seperti Amerika atau pun Eropa.

Dia mengatakan untuk membangun peradaban Indonesia masa depan harus ada sinergi antara kebudayaan, agama dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu yang harus dipersiapkan sebagai landasan yang kuat adalah pendidikan agar sumber daya manusianya menjadi berkualitas.

“Saya berkeyakinan dengan SDM berkualitas yang menguasai Iptek bersama iman dan takwa itu akan menjadikan Indonesia unggul. Tidak ada alasan lagi untuk menjadikan Indonesia unggul,” katanya.

Suami Ainun Habibie itu kemudian mencontohkan saat Indonesia mampu menciptakan pesawat terbang N250 - Gatotkaca. Pesawat itu merupakan 100 persen buatan putra-putri Indonesia, namun ternyata masih banyak orang yang meragukannya.

“Ini bukti nyata Indonesia memiliki kualitas SDM yang unggul. Tapi kemana lagi setelah itu.  Dari 48 ribu tenaga ahli kita kemudian berkurang jadi 16 ribu. Sekarang yang ahli dirgantara kurang dari 3 ribu. Bila terus turun hingga nol ini memprihatinkan,” pungkas dia.

Pada akhir acara, Habibie yang mengenakan kemeja batik warna coklat itu sempat bernyanyi bersama dengan anggota paduan suara mahasiswa UMY. Dia menyanyikan lagu kenangan “Sepasang Mata Bola”. (Eds)

 
 

Mencetak Pemimpin Bernurani dari Sekolah

PDFPrintE-mail

Last Updated on Friday, 27 April 2012 02:08 Friday, 27 April 2012 02:06

 

JAKARTA, KOMPAS.com -

Agar sukses menjadi pribadi yang efektif di masa datang, setiap anak seharusnya tidak hanya mampu menguasasi keterampilan dasar seperti membaca, memahami ilmu pengetahuan atau matematika saja, tetapi juga perlu menguasai keterampilan dalam berinteraksi sosial dan selalu memperbaiki kemampuan dirinya.


Tugas mengajarkan kemampuan tersebut tentu tidak bisa dibilang mudah. Salah satu upaya untuk mewujudkannya adalah melalui program The Leader in Me (TLIM), yakni program berlisensi FranklinCovey yang menanamkan kepemimpinan di seluruh aspek sekolah.

Program ini memberikan kesempatan tidak hanya kepada siswa, tetapi juga kepada guru, manajemen sekolah, hingga orang tua murid untuk memiliki karakter kepemimpinan melalui prinsip universal 7 habits. Yakni, be proactive, begin with the end in mind, put first things first, think win-win, seek first to understand-then to be understand, synergize, dan sharpen the saw.

Menurut Rasyid Izada, pembina Yayasan An-Nisaa, yang sudah menjalankan program TLIM di sekolahnya, program ini sangat menunjang ajaran 10 adab yang sudah lebih dulu ditanamkan di sekolahnya sejak jenjang TK hingga SMA.

Kesepuluh adab itu adalah damai, syukur, peduli, jujur, amanah, disiplin, kebersamaan, rendah hati, sabar, dan ikhlas. Akan tetapi,menurut Rasyid, 10 adab itu dinilainya masih belum sempurna. Setidaknya setelah ia mengenal program the leader in me.

"Setelah kami pelajari, program the leader in me ini baik digunakan sebagai penunjang 10 adab. Kami ingin mencetak true leadership yang berhati nurani. Karena pemimpin sekarang banyak yang tidak bernurani," ungkapnya di sela acara Leadership Day di Jakarta (3/4).

Sementara itu, ditemui terpisah, Executive Director PSKD Mandiri, Tya Adhitama mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, program the leader in me merupakan infrastruktur yang mendukung pembangunan karakter siswa di sekolah dengan tujuan mencetak pemimpin masa depan yang efektif.

Atas dasar keberhasilannya menerapkan program tersebut, PSKD Mandiri menjadi sekolah pertama di dunia (di luar Amerika Serikat) yang menjadi benchmark dalam penerapan program the leader in me.

"Tujuan kami ingin mencetak pemimpin yang memiliki karakter nasional. Pemimpin yang efektif bukan karena memiliki jabatan, tapi memiliki jiwa kepemimpinan dari dalam dirinya," pungkas Tya.

Penerapan program TLIM di sekolah antara lain berusaha menanamkan pola pikir pentingnya pembuatan perencanaan, penentuan skala prioritas, kerja sama, pentingnya mendengarkan orang lain sebelum kita berbicara, serta pentingnya memiliki kehidupan yang seimbang.

Salah satu kisah keberhasilan program TLIM di Amerika Serikat terjadi di AB Combs Leadership Magnet Elementary School, sebuah sekolah dasar negeri di Amerika. Bersama dengan staf sekolah, Muriel mengembangkan sekolah berbasis karakter kepemimpinan dengan menengali dan mengembangkan bakat unik yang dimiliki setiap siswa serta membangun kekuatan yang mereka miliki. Di bawah kepemimpinan Summers, dari tahun ke tahun sekolahnya berhasil meraih prestasi akademis di atas rata-rata.

Keberhasilan yang diraih sekolah tersebut juga mengantarkan A.B.Combs meraih berbagai penghargaan antara lain the Number One National Magnet School in America hingga the National Elementary School of the Year.

 
 

Jangan Ada Lagi Sarjana Menganggur

PDFPrintE-mail

Last Updated on Friday, 27 April 2012 02:08 Friday, 27 April 2012 02:04

 

Kompas.com - Untuk memastikan lulusan pendidikan tinggi terserap di dunia kerja, Menteri Tenaga kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar meminta agar mahasiswa mendapat kesempatan magang di dunia usaha sebelum lulus kuliah.

"Ke depan jangan ada lagi sarjana yang menganggur, caranya adalah dengan memberi kesempatan magang. Dengan demikian ia akan mendapat pengalaman kerja sebelum benar-benar mendapatkan pekerjaan," katanya usai acara Pencanangan Gerakan Penanggulangan Pengangguran dan Job Fair di Universitas Panca Budi Medan, Sabtu.

Ia mengatakan baru-baru ini pihaknya telah mencanangkan gerakan pemagangan nasional dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas calon tenaga kerja, serta lebih meningkatkan pelaksanaan pemagangan menjadi lebih intensif di Indonesia.

"Pelaksanaan pemagangan merupakan langkah konkrit pelaksanaan konsep link and match, yakni memastikan dunia pendidikan dan pelatihan selaras dengan kebutuhan dunia usaha, serta memastikan lulusan pendidikan terserap di pasar kerja," katanya.

Ia mengatakan manfaat program pemagangan dapat dirasakan oleh perusahaan, lembaga pelatihan, peserta magang, bahkan dapat meningkatkan kompetensi kerja yang profesional pada tingkat yang lebih tinggi dalam persaingan sumber daya manusia.

"Program pemagangan dapat membantu tenaga kerja secara cepat agar dapat terserap di pasar kerja, karena program ini memberikan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha, sekaligus menambah pengalaman kerja," katanya.

Sementara Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dalam kesempatan yang sama mengatakan pengangguran terbuka dewasa ini di daerahnya sudah mencapai angka 6,7 persen.

Meski jumlahnya masih dibawah rata-rata nasional, hal itu harus tetap menjadi perhatian semua pihak, baik pemerintah daerah, maupun dunia usaha. Karena peran dunia usaha dan dunia industri sangat strategis dalam menekan angka pengangguran.

"Peran dunia usaha sangat penting artinya dalam upaya menekan angka pengangguran, baik dalam pemagangan maupun perekrutan tenaga kerja baru," katanya.

 
 

Page 3 of 7

Cabang Bulevar

Jl. Bulevar Hijau Blok B8 No.48
Harapan Indah Bekasi Barat
888 66 058

Cabang Pondok Ungu

PUP Blok A1 No. 5
Bekasi Utara
888 2505

Cabang Taman Harapan

Ruko THB Blok B1 No. 33C
Bekasi Barat
8898 99 66