PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER

PDFPrintE-mail

Last Updated on Tuesday, 16 December 2014 13:20 Friday, 05 July 2013 09:19

 

 

Pentingnya Pendidikan Karakter Dalam Dunia Pendidikan

 

Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk 275 juta penduduk Indonesia”

Sebelum kita membahas topik ini lebih jauh lagi saya akan memberikan data dan fakta berikut:

  • 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011

  • 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011

  • 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI

  • Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM

Sumber : Litbang Kompas

Kini setelah membaca fakta diatas, apa yang ada dipikran anda? Cobalah melihat lebih ke atas sedikit, lebih tepatnya judul artikel ini. Yah, itu adalah usulan saya untuk beberapa kasus yang membuat hati di dada kita “terhentak” membaca kelakuan para pejabat Negara.

Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungan sosial. Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa ini.

 

Bayangkan apa persaingan yang muncul ditahun 2021? Yang jelas itu akan menjadi beban kita dan orangtua masa kini. Saat itu, anak-anak masa kini akan menghadapi persaingan dengan rekan-rekannya dari berbagai belahan Negara di Dunia. Bahkan kita yang masih akan berkarya ditahun tersebut akan merasakan perasaan yang sama. Tuntutan kualitas sumber daya manusia pada tahun 2021 tentunya membutuhkan good character.

Bagaimanapun juga, karakter adalah kunci keberhasilan individu. Dari sebuah penelitian di Amerika, 90 persen kasus pemecatan disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu, terdapat penelitian lain yang mengindikasikan bahwa 80 persen keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan oleh emotional quotient.

Bagaimana dengan bangsa kita? Bagaimana dengan penerus orang-orang yang sekarang sedang duduk dikursi penting pemerintahan negara ini dan yang duduk di kursi penting yang mengelola roda perekonomian negara ini? Apakah mereka sudah menunjukan kualitas karakter yang baik dan melegakan hati kita? Bisakah kita percaya, kelak tongkat estafet kita serahkan pada mereka, maka mereka mampu menjalankan dengan baik atau justru sebaliknya?

Dari sudut pandang psikologis, saya melihat terjadi penurunan kulaitas “usia psikologis” pada anak yang berusia 21 tahun pada tahun 20011, dengan anak yang berumur 21 pada tahun 2001. Maksud usia psikologis adalah usia kedewasaan, usia kelayakan dan kepantasan yang berbanding lurus dengan usia biologis. Jika anak sekarang usia 21 tahun seakan mereka seperti berumur 12 atau 11 tahun. Maaf jika ini mengejutkan dan menyakitkan.

Walau tidak semua, tetapi kebanyakan saya temui memiliki kecenderungan seperti itu. Saya berulangkali bekerjasama dengan anak usia tersebut dan hasilnya kurang maksimal. Saya tidak “kapok” ber ulang-ulang bekerja sama dengan mereka. Dan secara tidak sengaja saya menemukan pola ini cenderung berulang, saya amati dan evaluasi perilaku dan karakter mereka. Kembali lagi ingat, disekolah pada umumnya tidak diberikan pendidikan untuk mengatasi persaingan pada dunia kerja. Sehingga ada survey yang mengatakan rata-rata setelah sekolah seorang anak perlu 5-7 tahun beradaptasi dengan dunia kerja dan rata-rata dalam 5-7 tahun tersebut pindah kerja sampai 3-5 kali. Hmm.. dan proses seperti ini sering disebut dengan proses mencari jati diri. Pertanyaan saya mencari “diri” itu didalam diri atau diluar diri? “saya cocoknya kerja apa ya? Coba kerjain ini lah” lalu kalau tidak cocok pindah ke lainnya. Kenapa tidak diajarkan disekolah, agar proses anak menjalani kehidupan  di dunia yang sesungguhnya tidak mengalami hambatan bahkan tidak jarang yang putus asa karena tumbuh perasaan tidak mampu didalam dirinya dan seumur hidup  terpenjara oleh keyakinannya yang salah.

 

Baiklah kembali lagi ke topik, Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.

Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme. Inilah tantangan kita bangsa Indonesia, sanggup?

Theodore Roosevelt mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat)

 

OLEH : Bp. Timothy Wibowo

 

Ketika Pendidikan Tak Berpihak pada Rakyat Kecil

PDFPrintE-mail

Sunday, 14 October 2012 04:51

JAKARTA, KOMPAS.com - Nasib Fikri Nuari (13) tak seberuntung teman sebayanya. Mimpi untuk mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) terhalang birokrasi pemerintah tentang sekolah induk yang seharusnya menaungi sekolah Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) yang menjadi tempat belajarnya sekarang.

Bersama dengan guru dan tiga temannya, Fikri datang ke Dinas Pendidikan DKI Jakarta Jumat (12/10/2012), untuk menuntut keadilan agar dapat diakui oleh sekolah induknya yaitu SMP Negeri 28 Jakarta. Dengan demikian, haknya untuk memperoleh rapor dan ijazah resmi bisa terakomodir.

"Saya cuma pengen sekolah. Saya masuk ke TKBM karena NEM enggak bisa masuk SMP 28. Tapi kalau di swasta juga enggak ada duit," ujar Fikri.

Fikri yang tinggal di Johar Baru bersama dengan orang tua dan tiga saudaranya itu mengaku bahwa sejak awal tahun ajaran baru, dirinya belajar di rumah guru TKBM. Kepastian untuk dapat diakui oleh sekolah induk tak pernah didapatnya sampai saat ini.

"Senin sampai Kamis belajar di rumah ibu guru. Jumat Sabtu harusnya di sekolah. Tapi katanya kami sudah enggak bisa ke sana lagi," jelas anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Sementara itu, Reno Renaldi (13) yang juga merupakan siswa TKBM mengatakan bahwa dirinya bersekolah di situ karena ibunya tidak lagi mampu membiayai pendidikannya. Padahal, anak kelima dari delapan bersaudara ingin tetap sekolah agar ke depannya dapat membantu orang tua.

"Ayah saya sudah enggak ada. Kakak saya sudah enggak sekolah. Adik masih ada yang sekolah," ungkap Reno.

Bocah yang tinggal di Galur ini mengaku berangkat dan pulang sekolah cukup berjalan kaki, mengingat letak tempat belajarnya yang dekat. Selain itu, ia mengaku tak memiliki uang untuk transport karena biasanya dirinya mendapat jatah uang saku Rp 2.000 dari ibunya.

"Sekolah kan gratis. Biasanya belajar cuma dari jam delapan sampai jam duabelas," ujar Reno.

Fikri dan Reno hanya dua dari tujuh siswa yang belajar di TKBM dan terancam hak pendidikannya. Dinas Pendidikan DKI Jakarta memberi solusi untuk memindahkan sekolah induk TKBM ke SMP Negeri 79.

Meski lokasi tidak terlalu jauh, anak-anak ini terpaksa harus menggunakan transport yang biayanya juga entah sanggup ditanggung oleh orang tua mereka atau tidak.

Berdasarkan penjelasan salah seorang guru TKBM Johar Baru Helmi Ariestiani, SMP Negeri 28 Jakarta tidak lagi dapat menerima siswa TKBM karena keterbatasan ruang kelas akibat renovasi gedung.

Sementara Dinas Pendidikan DKI Jakarta menjelaskan bahwa SMP Negeri 28 Jakarta tidak lagi dijadikan indukan TKBM karena ingin meningkatkan kualitas dan kinerja. Sayangnya, alasan tersebut tidak pernah diungkapkan pihak sekolah pada guru TKBM.

Sebenarnya sejak tahun lalu, TKBM sudah tidak lagi menerima siswa. Namun saat Juli lalu ketuju anak tersebut datang dan menyatakan keinginannya untuk bersekolah, para guru tak sanggup menolak. Semestinya juga, anak-anak ini berhak atas dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) yang semakin meringankan beban anak-anak ini. Namun karena tidak diakui, hak tersebut pun terpaksa hilang.

Begitu sulit bagi orang-orang menengah ke bawah untuk beradu nasib. Ketidakadilan selalu menindas bahkan saat hal tersebut menjadi hak dasar mereka.

Anak-anak ini hanya contoh dari karut marut dan angkuhnya dunia pendidikan kita. Seolah pendidikan berkualitas hanya diperuntukkan bagi yang mampu membayar.

 

 
Editor :
Ana Shofiana Syatiri
 
 

Batas Minimal Kelulusan Tak Diubah, Soal UN Dibuat Lebih Sulit

PDFPrintE-mail

Sunday, 14 October 2012 04:45

JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) pada tahun 2013 nanti, batas nilai minimum kelulusan bagi para siswa ditargetkan tetap pada angka 5,5.

Namun meski batas nilai minimum kelulusan tidak diubah, bobot soal rencananya yang akan diubah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh mengatakan, hingga saat ini batas minimum kelulusan tidak akan diubah. Namun sebaran bobot soal akan disesuaikan dengan tidak adanya kenaikan batas minimum kelulusan.

"Masih dianalisis hingga saat ini. Tapi yang mungkin adalah menyebar tingkat kesulitan soalnya," ujar Nuh, saat jumpa pers penyelenggaraan UN di Gedung A Kemendikbud, Jakarta, Jumat (12/10/2012).

Ia menjelaskan pada tahun lalu sebaran tingkat kesulitannya untuk soal yang mudah hanya 10 persen, soal dengan bobot sedang 80 persen dan soal yang sukar sebanyak 10 persen. Sementara untuk tahun 2013, soal sukar akan ditambah menjadi 20 persen.

"Yang sedang berkurang jadi 70 persen. Yang mudah tetap 10 persen tapi ini masih dianalisis," ungkap Nuh.

Dihubungi terpisah, Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Lody Paat, mengatakan bahwa masalahnya bukan pada batas lulus atau tidak lulus melainkan pada prioritas fungsi UN ini sudah sesuai sebagai alat evaluasi atau tidak.

"Kembali lagi, batas minimum kelulusan itu bukan masalah. Tapi evaluasi siswa bukan dari UN. Itu urusan sekolah," tandas Lody.

 
Editor :
Benny N Joewono
 
 

Para Ayah Berperan Bentuk Karakter Gigih dan Tekun Anak

PDFPrintE-mail

Last Updated on Tuesday, 28 August 2012 05:49 Tuesday, 28 August 2012 05:46

Peran ayah sangat penting dalam mengembangkan kegigihan dan ketekunan dalam diri anak. Karakter tersebut menjadi landasan bagi anak dalam menghadapi tekanan kehidupan dan berhasil dalam hidupnya.

Studi baru oleh para peneliti dari School of Family Life di Brigham Young University menunjukkan, ayah mempu nyai posisi yang unik dalam me nolong anak mereka me ngembangkan karakter gigih dan tekun. Riset para peneli ti BYU itu diterbitkan dalam jurnal Early Adolescence, 15 Juni 2012.

Profesor Laura Padilla-Walker dan Randal Day mencapai kesimpulan itu setelah mengikuti perkembangan 325 keluarga sela ma beberapa tahun. Seiring berjalann ya waktu, sifat gigih diperoleh anak dari para ayah. Sikap ini berdampak postif yakni lebih tinggi nya keterlibatan anak di sekolah dan tingkat kenakalan lebih rendah.

"Dalam penelitian , kami bertanya apakah anak mampu bertekun pada sebuah tugas, menyelesaikan sebuah proyek, serta membuat tujuan dan menyelesaikannya. Kemampuan anak untuk bertekun dan gigih menjadi landasan penting bagi anak untuk berkembang, maju, dan mampu menghadapi stres serta tekanan kehidupan," ujar Day seperti dikutip ScienceDaily. Dalam studi itu juga disimpulkan sifat gigih dan tekun dapat diajarkan. Kuncinya ialah peran ayah dalam mempraktikkan apa yang disebut pengasuhan tegas dan berwibawa , tetapi model pengasuhan itu jangan disamakan dengan pengasuhan yang otoriter. Sama sekali berbeda.

Beberapa hal dalam pengasuhan tegas berwibawa itu antara lain anak mendapatkan kehagatan dan kasih sayang dari ayah, penekanan terhadap akuntabilitas dan alasan dari setiap aturan yang dibuat orangtua, serta anak diberikan otonomi yang wajar.

Sekitar 52 persen ayah dalam studi itu yang melaksanakan model pengasuhan itu, anak-anaknya dapat mengembangkan kegigihan dan ketekunan.Studi ini meneli ti anak-anak umur 11-14 tahun. Kedua peneliti itu menyarankan, Para ayah harus terus berusaha lebih terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka dan melakukan interaksi yang berkualitas , walaupun secara kuantitas terbatas, ujar Padilla-Walker.

Sumber: ScienceDaily

 
 

Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan Moral pada Anak

PDFPrintE-mail

Friday, 20 July 2012 08:39

 

alt

Dalam proses pembentukan dan pengembangan nilai moral pada anak, tentu terdapat beberapa factor yang mendorong dan menghambat pendidikan moral, yang akan disebutkan sebagai berikut.

 

Faktor Pendukung

Untuk mendukung perkembangan moral, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu:

1. Mengabaikan

Mengabaikan adalah cara yang digunakan orang tua ketika perilaku anak tidak disetujui. Misalnya untuk anak yang terlalu manja dan meminta suatu hal namun tidak disetujui oleh orang tuanya, maka orang tua dapat mengabaikan permintaan anaknya atau tidak meperdulikannya.

2. Mencontohkan

Memberikan contoh berarti menjadi model perilaku yang diinginkan muncul dari anak, karena cara ini bisa menjadi cara yang paling efektif untuk membentuk moral anak.

3. Membiarkan

Membiarkan bukan berarti mengabaikan, melainkan memberikan kesempatan pada anak untuk belajar dari kesalahannya.

4. Mengalihkan Perhatian

Bisa dilakukan apabila anak yang terlibat cukup banyak, misalnya perkelahian. Orang tua ataupun orang dewasa dapat mengalihkan perhatian anak-anak dengan mengajak untuk melakukan hal lain yang lebih baik.

5. Tantangan

Dengan tantangan, orang tua dapat mendorong anak untuk mengeluarkan kemampuannya dalam suatu keadaan. Hal ini dapat dijadikan pelajaran bagi anak untuk melakukan pilihan dan menentukan baik atau buruk sesuatu hal dikemudian hari.

 

6. Memuji

Memuji anak atas tindakannya yang tepat dapat menguatkan sikap dan perilakunya. Dengan memuji, anak dapat mengerti bahwa sikap dan perilakunya itu positif dan sesuai dengan harapan lingkungan. Anak bisa merasa dihargai, sehingga kepercayaan dirinya akan meningkat. Dengan pujian, anak akan merekam sikap dan perilaku dalam ingatannya sehingga termotivasi untuk mengulanginya lagi.

7. Menciptakan Inisiatif

Cara ini dapat dilakukan dengan mengajak anak untuk melakukan suatu hal yang membangkitkan keinginan dari dirinya sendiri. Orang tua dapat memunculkan inisiatif anak misalnya dengan memberi tahu manfaat dari perbuatannya dan efeknya apabila tidak dikerjakan. Tetapi jangan dengan cara menakut-nakutinya.

8. Latihan dan Pembiasaan

Menurut Robert Coles (Wantah, 2005) latihan dan pembiasaan merupakan strategi penting dalam pembentukan perilaku moral pada anak usia dini. Sikap orang tua dapat dijadikan latihan dan pembiasaan bagi anak. Sejak kecil orang tua selalu merawat, memelihara, menjaga kesehatan dan lain sebagainya untuk anak. Hal ini akan mengajarkan moral yang positif bagi anak.7

9. Bermain

Melalui bermain, anak dapat mengenal lingkungan social yang memberikan banyak masukan mengenai nilai-nilai yang disetujui dan tidak disetujui, belajar mengetahui dan menerima kekurangan dan kelebihan dirinya dan orang lain, belajar konsep-konsep moral secara nyata, dan belajar untuk disiplin mematuhi aturan.

 

Faktor Penghambat

Berikut adalah kesulitan yang dihadapi anak dalam mempelajari konsep moral:

1. Tingkat Intelegensi

Semakin tinggi tingkat intelegensi seorang anak, semakin mudah ia mempelajari suatu konsep moral.

2. Cara Pengajaran

Biasanya orang tua menekankan pada apa yang tidak boleh dan apa yang salah, bukan pada apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang benar. Akibatnya anak menjadi bingung. Oelh karena itu, dalam pengembangan moral anak, orang tua harus berhati-hati dalam berkata. Misalnya mengubah kata “Tidak boleh bohong” menjadi “Harus jujur”.

Selain itu, orang tua harus bersabar dalam mengajarkan pendidikan moral untuk anaknya. Karena banyak factor yang mempengaruhi kemampuan anak dalam memahami konsep moral. Tetapi dengan menggunakan proses belajar secara kontinu dapat dijadikan alternative untuk memudahkan anak menguasai konsep moral seperti yang diharapkan.

3. Perubahan Nilai Sosial

Perubahan nilai social dapat menjadi beban bagi anak dalam menyesuaikan diri. Karena ketika seorang anak belum selesai menyesuaikan diri dengan nilai moral yang pertama, anak sudah harus menyesuaikan diri dengan nilai moral yang baru.

4. Perbedaan Nilai Moral

Orang tua atau guru yang mengajarkan suatu nilai moral pada anak, seringkali lupa bahwa ia harus memberikan teladan pada anak mengenai apa yang ia ajarkan. Akibatnya anak tidak menemukan kesesuaian antara nilai moral yang diajarkan dengan nilai moral yang ia lihat. Anak menjadi bingung dan cenderung mengabaikan peraturan yang ditetapkan.

5. Nilai dan Situasi yang Berbeda

Anak cenderung beum mampu memberikan penilaian pada peristiwa unik atau khusus. Karena itu, anak menyamaratakan peraturan yang satu untuk kodisi yang berbeda.

6. Konflik Dengan Lingkungan Sosial

Sering kali anak bingung menghadapi harapan lingkungan social yang berbeda antara lingkungan yang satu dengan lingkungan yang lain. Misalnya, dirumah, ia diajarkan untuk melawan jika dipukul temannya. Tetapi disekolah, anak diajarkan untuk selalu melawan dengan kebaikan. Akibatnya anak bingung mana yang harus ia lakukan.

 

 
 

Page 1 of 7

Cabang Bulevar

Jl. Bulevar Hijau Blok B8 No.48
Harapan Indah Bekasi Barat
888 66 058

Cabang Pondok Ungu

PUP Blok A1 No. 5
Bekasi Utara
888 2505

Cabang Taman Harapan

Ruko THB Blok B1 No. 33C
Bekasi Barat
8898 99 66