Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan Moral pada Anak

PDFPrintE-mail

 

alt

Dalam proses pembentukan dan pengembangan nilai moral pada anak, tentu terdapat beberapa factor yang mendorong dan menghambat pendidikan moral, yang akan disebutkan sebagai berikut.

 

Faktor Pendukung

Untuk mendukung perkembangan moral, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu:

1. Mengabaikan

Mengabaikan adalah cara yang digunakan orang tua ketika perilaku anak tidak disetujui. Misalnya untuk anak yang terlalu manja dan meminta suatu hal namun tidak disetujui oleh orang tuanya, maka orang tua dapat mengabaikan permintaan anaknya atau tidak meperdulikannya.

2. Mencontohkan

Memberikan contoh berarti menjadi model perilaku yang diinginkan muncul dari anak, karena cara ini bisa menjadi cara yang paling efektif untuk membentuk moral anak.

3. Membiarkan

Membiarkan bukan berarti mengabaikan, melainkan memberikan kesempatan pada anak untuk belajar dari kesalahannya.

4. Mengalihkan Perhatian

Bisa dilakukan apabila anak yang terlibat cukup banyak, misalnya perkelahian. Orang tua ataupun orang dewasa dapat mengalihkan perhatian anak-anak dengan mengajak untuk melakukan hal lain yang lebih baik.

5. Tantangan

Dengan tantangan, orang tua dapat mendorong anak untuk mengeluarkan kemampuannya dalam suatu keadaan. Hal ini dapat dijadikan pelajaran bagi anak untuk melakukan pilihan dan menentukan baik atau buruk sesuatu hal dikemudian hari.

 

6. Memuji

Memuji anak atas tindakannya yang tepat dapat menguatkan sikap dan perilakunya. Dengan memuji, anak dapat mengerti bahwa sikap dan perilakunya itu positif dan sesuai dengan harapan lingkungan. Anak bisa merasa dihargai, sehingga kepercayaan dirinya akan meningkat. Dengan pujian, anak akan merekam sikap dan perilaku dalam ingatannya sehingga termotivasi untuk mengulanginya lagi.

7. Menciptakan Inisiatif

Cara ini dapat dilakukan dengan mengajak anak untuk melakukan suatu hal yang membangkitkan keinginan dari dirinya sendiri. Orang tua dapat memunculkan inisiatif anak misalnya dengan memberi tahu manfaat dari perbuatannya dan efeknya apabila tidak dikerjakan. Tetapi jangan dengan cara menakut-nakutinya.

8. Latihan dan Pembiasaan

Menurut Robert Coles (Wantah, 2005) latihan dan pembiasaan merupakan strategi penting dalam pembentukan perilaku moral pada anak usia dini. Sikap orang tua dapat dijadikan latihan dan pembiasaan bagi anak. Sejak kecil orang tua selalu merawat, memelihara, menjaga kesehatan dan lain sebagainya untuk anak. Hal ini akan mengajarkan moral yang positif bagi anak.7

9. Bermain

Melalui bermain, anak dapat mengenal lingkungan social yang memberikan banyak masukan mengenai nilai-nilai yang disetujui dan tidak disetujui, belajar mengetahui dan menerima kekurangan dan kelebihan dirinya dan orang lain, belajar konsep-konsep moral secara nyata, dan belajar untuk disiplin mematuhi aturan.

 

Faktor Penghambat

Berikut adalah kesulitan yang dihadapi anak dalam mempelajari konsep moral:

1. Tingkat Intelegensi

Semakin tinggi tingkat intelegensi seorang anak, semakin mudah ia mempelajari suatu konsep moral.

2. Cara Pengajaran

Biasanya orang tua menekankan pada apa yang tidak boleh dan apa yang salah, bukan pada apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang benar. Akibatnya anak menjadi bingung. Oelh karena itu, dalam pengembangan moral anak, orang tua harus berhati-hati dalam berkata. Misalnya mengubah kata “Tidak boleh bohong” menjadi “Harus jujur”.

Selain itu, orang tua harus bersabar dalam mengajarkan pendidikan moral untuk anaknya. Karena banyak factor yang mempengaruhi kemampuan anak dalam memahami konsep moral. Tetapi dengan menggunakan proses belajar secara kontinu dapat dijadikan alternative untuk memudahkan anak menguasai konsep moral seperti yang diharapkan.

3. Perubahan Nilai Sosial

Perubahan nilai social dapat menjadi beban bagi anak dalam menyesuaikan diri. Karena ketika seorang anak belum selesai menyesuaikan diri dengan nilai moral yang pertama, anak sudah harus menyesuaikan diri dengan nilai moral yang baru.

4. Perbedaan Nilai Moral

Orang tua atau guru yang mengajarkan suatu nilai moral pada anak, seringkali lupa bahwa ia harus memberikan teladan pada anak mengenai apa yang ia ajarkan. Akibatnya anak tidak menemukan kesesuaian antara nilai moral yang diajarkan dengan nilai moral yang ia lihat. Anak menjadi bingung dan cenderung mengabaikan peraturan yang ditetapkan.

5. Nilai dan Situasi yang Berbeda

Anak cenderung beum mampu memberikan penilaian pada peristiwa unik atau khusus. Karena itu, anak menyamaratakan peraturan yang satu untuk kodisi yang berbeda.

6. Konflik Dengan Lingkungan Sosial

Sering kali anak bingung menghadapi harapan lingkungan social yang berbeda antara lingkungan yang satu dengan lingkungan yang lain. Misalnya, dirumah, ia diajarkan untuk melawan jika dipukul temannya. Tetapi disekolah, anak diajarkan untuk selalu melawan dengan kebaikan. Akibatnya anak bingung mana yang harus ia lakukan.

 

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday5
mod_vvisit_counterYesterday47
mod_vvisit_counterThis week5
mod_vvisit_counterLast week1218
mod_vvisit_counterThis month2103
mod_vvisit_counterLast month2443
mod_vvisit_counterAll days79291

We have: 1 guests online
Your IP: 54.161.175.231
 , 
Today: Sep 22, 2014

Cabang Bulevar

Jl. Bulevar Hijau Blok B8 No.48
Harapan Indah Bekasi Barat
888 66 058

Cabang Pondok Ungu

PUP Blok A1 No. 5
Bekasi Utara
888 2505

Cabang Taman Harapan

Ruko THB Blok B1 No. 33C
Bekasi Barat
8898 99 66