USBN Diganti US Mulai 2020, Sekolah Bikin Soal Sendiri

Jakarta – Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) mengatakan Prosedur Operasional Standar (POS) Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) diganti mulai 2020. Ketua BSNP Abdul Mu’ti mengatakan nantinya yang berlaku adalah ujian sekolah (US).

“(Tahun) 2020 ini tidak ada lagi USBN dan karena itu, maka BSNP tidak menerbitkan POS USBN dan yang berlaku nanti adalah ujian sekolah,” kata Abdul Mu’ti di kantor BSNP, Jalan RS Fatmawati, Jakarta Selatan, Selasa (21/1/2020).

Lebih lanjut, anggota BSNP Suyanto juga menegaskan USBN sudah ditiadakan. Dia mengatakan seluruh sekolah harus membuat soal ujian masing-masing.

“USBN sudah tidak ada karena begitu saya upload di Facebook saya, banyak yang bertanya ‘apa gantinya?’. Karena itu tolong ikut sosialisasikan bahwa sekolah itu harus bikin sendiri-sendiri gitu ya, karena USBN itu sudah nggak ada dan di daerah masih nunggu-nunggu. Nunggu-nunggu barang yang sudah tidak ada,” kata Suyanto.

Selain itu, BSNP mengeluarkan POS UN baru yang tertuang dalam Peraturan BSNP Nomor 0053/P/BSNP/I/2020. Menurut Abdul, POS UN yang baru tidak begitu memiliki perubahan yang signifikan.

“Ya saya kira sebenarnya perubahan yang mendasar itu lebih banyak terkait dengan perubahan nomenklatur di Kemendikbud. Kalau secara substantif penyelenggaraan ujian 2020 ini dengan POS yang baru tidak ada perubahan yang sangat mendasar dengan sebelumnya,” jelas Abdul.

“Misalnya untuk moda ujian nasional tetap saja kita menggunakan seperti tahun sebelumnya UN berbasis komputer dan berbasis kertas dan pensil,” sambung Abdul.

Sumber: Detik.com

MENDIDIK ANAK TANGGUH

Materi ini disusun berawal dari keprihatinan terhadap permasalahan yang dialami rekan rekan dalam pernikahan mereka. Faktor yang melemahkan dalam sebuah pernikahan salah satunya adalah kurang tangguhnya individu dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

  • Ada suami yang tidak percaya diri untuk mencari nafkah
  • Ada suami yang mengandalkan istri dalam hal memenuhi kebutuhan finansial keluarga
  • Ada suami yang cepat tertekan dan sering menarik diri saat ada permasalahan
  • Ada istri yang terlalu banyak menyalahkan pasangan tanpa banyak usaha yang dilakukan
  • Ada suami istri yang masih belum lepas dari intervensi orangtua
  • Ada suami istri yang belum berani untuk hidup mandiri

Mencermati hal tersebut, merunut pada tahap perkembangan manusia, sebenarnya ketangguhan bermula dari sejak seseorang lahir terdunia.

Ikhtiar kita membangun ketangguhan, akan menjadi awal terbentuknya keluarga sakinah anak anak kita kelak. Lalu bagaimana langkah awal yang bisa kita lakukan agar anak kita tumbuh menjadi pribadi yang tangguh?

PONDASI KETANGGUHAN

  1. Percaya kepada orang di luar dirinya.

Seseorang yang senantiasa berpikir bahwa orang di luar dirinya merupakan sebuah ancaman, tidak bisa memberikan perhatian penuh pada solusi dari sebuah permasalahan. Saat bekerja misalnya, ia akan selalu gelisah/ khawatir akan penilaian atasan, selalu berpikir bahwa rekan kerja tidak mendukung dirinya. Pemikiran pemikiran seperti ini akan menguras energinya, hingga tugas utamanya dalam pekerjaan terbengkalai. Terkadang ada sosok yang sering kali berpindah pindah kerja, karena merasa tidak nyaman dengan lingkungan kerjanya. Ia kurang mampu beradaptasi pada lingkungan.

Percaya kepada orang di luar dirinya, akan mendorong untuk senantiasa berpikir positif, tidak mudah berburuk sangka pada orang lain. Buruk sangka sangat menguras energi dan mengalihkan perhatian dari permasalahan sebenarnya.

Rasa percaya kepada orang diluar dirinya, dibentuk di dua tahun pertama kehidupan anak. Erikson menamakan tahap ini sebagai tahap TRUS vs MISTRUST.

Pada tahap ini PENTING untuk RESPONSIF terhadap kebutuhan anak. Jika ia haus, segera disusui. Jika kedinginan segera di selimuti, Jika ingin main bersama, segera di temani. Tidak membiarkan anak menangis terlalu lama. Segera penuhi kebutuhannya

  • Mandiri

Mandiri adalah mampu menuntaskan tugasnya sendiri tanpa bantuan. Bayangkan jika sosok dewasa tidak mandiri. Tugas tugas yang penting dalam kehidupannya menjadi menggantung tidak tuntas. Terdapat suami yang gamang menjadi kepala rumah tangga karena tidak memiliki keberanian untuk menuntaskan tugasnya sebagai pemberi nafkah. Ada kecemasan ketika harus menunaikan tugas tersebut sendiri. Lebih tertekan dan mengharapkan bantuan.

Kemandirian ini terbangun dari sejak usia 2 tahun. Secara alami, anak cenderung ingin menuntaskan tugasnya sendiri tanpa bantuan, Cermati anak usia 2 tahun yang mulai ingin memakai celana sendiri, mulai ingin makan sendiri, mandi sendiri. Namun tidak semua anak mendapat kesempatan untuk mandiir. Begitu banyak orangtua yang memilih untuk MEMBANTU anak menuntaskan tugas yang sesungguhnya dia MAMPU.

Menurut Erikson , usia 2 – 4 tahun adalah masa Autinomy vs Shame and Doubt, Masa ini merupakan masa yang penting untuk membangun kemandirian anak. Berikan tugas sesuai kemampuan mereka.

  • Tanggung Jawab

Saat perkembangan intelektual anak mulai berkembang, dan memahami sebab akibat. Kita bisa mulai mengenalkan pada konsep tanggungjawab melalui aktivitas sehari hari. Mencuci piring setelah makan, merapikan tempat tidur, membersihkan lingkungan sekitar setelah bermain, dan lain sebagainya.

Tanggungjawab juga diperoleh dari penegakan aturan dan konsekuensi dari kesalahan yang dilakukan. Rancanglah aturan dan konsekuensi yang wajar sesuai usia. Aturan dan konsekuensi tidak perlu berat, namun yang terpenting adalah kita tega menegakkannya karena anak mampu untuk melaluinya.

  • Daya juang

Tidak semua orang memiliki dorongan untuk berusaha mencapai harapan, dan target hidupnya. Ada sosok yang cepat menyerah, atau bahkan belum melangkah sudah memutuskan untuk berhenti. Daya juang bisa dibangun sejak dini. Biasakan anak untuk melalui PROSES, dan menikmatinya.

PROSES bisa dihayati anak dari hal hal sederhana. Dimulai dari mengenal kebutuhan yang ia rasakan. Misalnya anak merasa haus, lalu ia berusaha untuk mengambil minum. Anak merasa lapar, lalu menyiapkan diri untuk makan, dan makan sendiri. Bandingkan dengan anak yang lapar, malah rewel ngga karuan, kemudian disuapi oleh orangtuanya. Ia bisa terpenuhi kebutuhannya. Bahkan tanpa menyadari kebutuhan tersebut, dan tanpa usaha sama sekali untuk memenuhinya.

Membentuk daya juang ini bisa dimulai ketika kemampuan motorik atau kemampuan mengendalikan diri sudah berkembang, yaitu sejak 2 tahun.

  • Berani mengambil keputusan.

Ada tipe orang yang peragu dalam mengambil keputusan, ada yang terlalu berani dalam mengambil keputusan, ada juga yang “safety player” dalam mengambil keputusan. Pada dasarnya seorang pengambil keputusan harus berani mengambil resiko.

Dari sejak kapan anak bisa dibentuk untuk menjadi sosok yang berani mengambil resiko, namun juga terukur? Jawabannya adalah sejak usia 4 tahun. Beri kesempatan anak untuk memilih. Erikson menyebut masa ini sebagai Masa Initiative vs Guilt. Saatnya anak dibimbing agar memiliki insiatif. Beri kesempatan untuk memutuskan hal sederhana, seperti memilih pakaian yang ingin dipakai, memilih makanan yang ingin di makan, memilih buku yang ingin dibaca, dll. Jangan mengasuh anak, bagaikan mereka robot yang setiap langkah mereka hanya berdasarkan perintah kita.

Bagaimana agar Ia mampu mengukur resiko, sehingga berani mengambil resiko namun juga masih terukur dengan baik. Hal ini berkaitan dengan jiwa tanggungjawab.

  • Percaya diri

Terdapat sosok yang pintar secara akademik, namun tidak produktif, karena ia tidak percaya diri. Kelebihan kelebihan yang dimiliki menjadi tidak muncul. Ia sibuk berkutat dengan kekurangannya.

Setelah di masa 2 – 4 tahun anak membangun pondasi  kemandirian, dan di usia 4 -6 tahun anak membangun pondasi  insiatif, maka di usia 6 – 12 tahun adalah masa anak memantapkan pondasi tersebut menjadi sosok yang percaya diri.

Usia 6 – 12 tahun, adalah usia sekolah. Pastikan anak mendapat tugas yang ia mampu untuk tuntaskan. Pastikan anak mampu menuntaskan tugas tugasnya. Keberhasilan anak di masa ini akan ,mendukung pada terbentuknya rasa percaya diri. Karenanya jangan abaikan ketika anak mengalami kesulitan, baik akademik maupun sosial.

Rasa percaya diri juga terhayati dari bagaimana ia menilai dirinya. Apakah ia adalah sosok yang memiliki banyak kelebihan dan sedikit kekurangan atau sebaliknya.

Anak bisa mengetahui kelebihannya melalui pengalaman dirinya atau umpan balik dari orang lain, terutama orang yang signifikan bagi dirinya seperti orangtua dan guru. Karenanya penting untuk memastikan apakah anak kita memperoleh cukup apresiasi akan keberhasilan/ kebaikan dan usahakan minimalkan kritik tajam atas kesalahan mereka

Demikian enam pondasi yang perlu dibangun agar anak tangguh. Semoga bermanfaat. Silakan di share, sekiranya bermanfaat

Profil Penulis

Nama                    : Lita Edia Harti, S.Psi

Pendidikan         : S1 Psikologi UNPAD

Pekerjaan           : Direktur Sekolah Amal Mulia Insani Depok Owner Pernik Sakinah

Domisili               : Depok

8 Fakta Terkait UN Terakhir 2020 dan Asesmen Pengganti

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Nadiem Makarim memastikan tahun 2020 menjadi tahun terakhir pelaksanaan ujian nasional (UN). Tahun 2021, UN akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. “Dua hal ini yang akan menyederhanakan asesmen kompetensi minimum yang akan dimulai tahun 2021. Jadi bukan berdasarkan mata pelajaran dan penguasaan materi,” tutur Mendikbud Nadiem Makarim dalam Rapat Koordinasi Mendikbud dengan Kepala Dinas Pendidikan se-Indonesia di Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Dilansir dari laman resmi Kemendikbud, berikut 8 fakta terkait UN 2020 dan rencana penerapan assemen sebagai pengganti UN:

  1. Kebijakan baru tentang UN Mulai tahun 2021 UN akan diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Kedua asesmen baru ini dirancang khusus untuk fungsi pemetaan dan perbaikan mutu pendidikan secara nasional.
  1. Tiga alasan 2020 jadi tahun terakhir UN
  • UN lebih banyak berisi butir-butir yang mengukur kompetensi berpikir tingkat rendah. Hal ini tidak sejalan dengan tujuan pendidikan yang ingin mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi serta kompetensi lain yang lebih relevan dengan Abad 21, sebagaimana tercermin pada Kurikulum 2013.
  • UN kurang mendorong guru menggunakan metode pengajaran yang efektif untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Asesmen kompetensi pengganti UN akan dirancang memberi dorongan lebih kuat ke arah pengajaran yang inovatif dan berorientasi pada pengembangan penalaran, bukan hafalan.
  • UN kurang optimal sebagai alat untuk memperbaiki mutu pendidikan secara nasional. Karena dilangsungkan di akhir jenjang, hasil UN tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa dan memberi bantuan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.
  1. Pengganti UN Asesmen kompetensi pengganti UN mengukur kompetensi bernalar yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah di berbagai konteks, baik personal maupun profesional (pekerjaan). Saat ini kompetensi apa saja yang akan diukur masih dikaji, namun contohnya adalah kompetensi bernalar tentang teks (literasi) dan angka (numerasi). Selain itu, Kemdikbud juga akan melakukan survei untuk mengukur aspek-aspek lain yang mencerminkan penerapan Pancasila di sekolah. Hal ini mencakup aspek-aspek karakter siswa (seperti karakter pembelajar dan karakter gotong royong) dan iklim sekolah (misalnya iklim kebinekaan, perilaku bullying, dan kualitas pembelajaran). Karena fungsi utamanya adalah sebagai alat pemetaan mutu, asesmen kompetensi dan survei pembinaan Pancasila ini belum tentu dilaksanakan setiap tahun, dan belum tentu harus diikuti oleh semua siswa.
  1. Alasan difokuskan pada literasi dan numerasi Literasi dan numerasi adalah kompetensi yang sifatnya general dan mendasar. Kemampuan berpikir tentang, dan dengan, bahasa serta matematika diperlukan dalam berbagai konteks, baik personal, sosial, maupun profesional. Dengan mengukur kompetensi yang bersifat mendasar (bukan konten kurikulum atau pelajaran), pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa guru diharapkan berinovasi mengembangkan kompetensi siswa melalui berbagai pelajaran melalui pengajaran yang berpusat pada siswa.
  1. Peserta asesmen pengganti UN Asesmen kompetensi baru akan dilakukan pada siswa yang duduk di pertengahan jenjang sekolah, seperti kelas 4 untuk SD, kelas 8 untuk SMP, dan kelas 11 untuk SMA. Dengan dilakukan pada tengah jenjang, hasil asesmen bisa dimanfaatkan sekolah untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa. Dengan dilakukan sejak jenjang SD, hasilnya dapat menjadi deteksi dini bagi permasalahaan mutu pendidikan nasional.
  1. Tidak berpengaruh di jenjang SD Perlu diketahui bahwa saat ini pun tidak ada UN pada jenjang SD. Dengan demikian, penghentian UN tidak berdampak pada siswa SD. Seperti yang dipaparkan pada poin sebelumnya, sebagian siswa SD akan mengikuti asesmen kompetensi baru. Namun asesmen baru ini dirancang agar tidak memiliki konsekuensi bagi siswa. Karena itu, asesmen baru tidak menjadi beban tambahan bagi siswa SD.
  1. Assesmen tidak jadi beban siswa Asesmen kompetensi pengganti UN akan dirancang agar tidak memiliki konsekuensi bagi siswa. Misalnya, pelaksanaan pada pertengahan jenjang (bukan akhir jenjang) membuat hasil asesmen kompetensi tidak relevan untuk menilai pencapaian siswa. Hasilnya juga tidak relevan untuk seleksi memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi. Dengan demikian, asesmen ini tidak akan menjadi beban tambahan bagi siswa, di luar beban belajar normal yang sudah dijalani.
  1. Assemen dijadikan evaluasi guru dan sekolah Sebaliknya, analisis dan laporan hasil asesmen kompetensi akan dibuat agar bisa dimanfaatkan guru dan sekolah untuk memperbaiki proses belajar mengajar. Hal ini dimungkinkan karena asesmen baru akan didasarkan pada model learning progression (lintasan belajar) yang akan menunjukkan posisi siswa dalam tahapan perkembangan suatu kompetensi. Keberhasilan guru/sekolah akan lebih didasarkan pada perubahan dan kemajuan yang dicapai dibanding waktu asesmen sebelumnya. Hasil asesmen justru akan digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan sekolah. Kemdikbud akan mengalokasikan dukungan, misalnya dalam bentuk alokasi SDM dan/atau dana sesuai dengan kebutuhan tiap sekolah.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “8 Fakta Terkait UN Terakhir 2020 dan Asesmen Pengganti”, https://edukasi.kompas.com/read/2020/01/14/08000021/8-fakta-terkait-un-terakhir-2020-dan-asesmen-pengganti?page=all.

Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo

Doa Ibu Lebih Dahsyat dari Doa Ulama, bahkan Wali Sekalipun

Sebuah kisah hikmah tentang Sayyid Sholeh bin Muhammad Al-Ja’fari yang doa makbulnya dalam ibadah Haji “dibatalkan” oleh keinginan ibunya sendiri. Kisah ini bermula ketika beliau pertama kali melakukan ibadah Haji tahun 1952, di depan Ka’bah beliau berdoa kepada Allah agar memperkenannya untuk bisa pergi Haji setiap tahun, dan benar doa beliau diijabah.

Setiap tahun hingga wafatnya beliau selalu berangkat Haji, kecuali pada musim Haji tahun 1962. Situasi tahun itu benar-benar rumit dan tidak memungkinkan beliau untuk berangkat dari Kairo ke Makkah. Beliau kemudian pergi ke Sudan dan bermaksud berangkat ke Makkah dari sana.

Namun ternyata kondisi untuk pergi dari Sudan ke Makkah pun sama tidak memungkinkan. Setelah berbagai upaya dirasa sulit, beliau akhirnya memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Dunqula, Sudan, karena kebetulan beliau sedang berada di Sudan.

Ketika sampai di rumah, di depan pintunya ibunya tiba-tiba memeluk beliau dan berkata, “Maafkan ibu nak. Ibu telah membeli seekor domba tahun lalu untuk dikurbankan tahun ini, dan ibu berdoa kepada Allah supaya engkau bisa mencicipi masakan ibu dari daging kurban itu.” Maka mengertilah Sayyid Sholeh mengapa tahun ini beliau sulit pergi Haji hingga akhirnya batal sama sekali.

Demikianlah hebatnya doa seorang ibu yang lebih hebat dari doa seorang Ulama bahkan Wali sekalipun. Rasulullah pernah bersabda, “Kedudukan doa seorang ibu untuk anaknya, laksana kedudukan doa seorang Nabi untuk umatnya.”

Sayyid Sholeh Al-Ja’fari adalah Ulama dan Wali besar pendiri Thariqah Al-Ja’fari serta Imam dan Khatib di Masjid Al-Azhar, Mesir. Beliau yang masih keturunan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam ini merupakan guru dari Ulama-ulama besar dunia. Diantara muridnya yang terkenal adalah Syeikh Ali Jum’ah dan Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.

Kisah Semangat Pemuda Mewujudkan Mimpi Belajar

http://www.dreamstime.com/stock-image-teenage-boy-studying-using-digital-tablet-home-sitting-table-image37634081

SEBUTLAH namanya Fulan. Sosok pendidik yang sangat saya idolakan di sebuah Sekolah Menengah Atas, tempat saya menimba ilmu di Maluku.

Banyak faktor yang menjadi daya tarik bagi saya pribadi kepada beliau dibanding guru-guru yang lain.

Bersahabat, santun, hormat kepada yang muda, inspiratif, adalah di antara karakter yang menurut saya melekat pada sosok beliau.

Suatu hari,  semasa saya duduk di kelas dua, Ustadz Fulan menyampaikan motivasi di depan murid-murid. Tema yang diangkat tentang kemuliaan menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada khalayak umum.

Pesan yang sangat melekat di benak, beliau bertutur; bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain.

Guru, masih kata Ustadz Fulan, adalah profesi yang sangat strategis untuk mengewajantahkan visi itu.

“Karena itu, kalian harus semangat belajar. Jangan berhenti sekolah. Harus lanjut ke perguruan tinggi,” sengatnya.

Pesan itu benar-benar menjadi penyulutku untuk terus belajar, dan bertekat melanjutkan studi. Sekalipun saya menyadari, keinginanku itu akan berbentur dengan kondisi finansial orangtua.

Ya. Orangtuaku hanyalah seorang petani biasa. Penghasilannya pas-pasan untuk kebutuhan hidup. Bahkan seringnya kekurangan.

Namun, kondisi itu sama sekali tak mampu meredam api semangat belajarku waktu itu.

Setelah lulus SMA, kuberanikan diri untuk mendaftar kuliah di salah satu perguruan tinggi Islam negeri. Tes. Alhamdulillah diterima.

Persoalannya ada pada biaya. Total  yang dibutuhkan Rp 1.300.000.  Kukabarkan hal itu ke rumah. Alhamdulillah, tepat sekali waktu itu kedua orangtua mendapat kelonggaran rezeki. Namun, mereka mengaku tak mampu kalau harus memenuhi total biaya yang diperlukan.

“Bapak hanya bisa memberi uang sejuta rupiah,” kata bapak, dari seberang telepon.

“Enggak apa-apa, Pak. Insya Allah nanti saya akan cari tambahannya,” jawabku meyakinkan, agar keduanya tenang.

Bagaimana langkahku menggenapkan uang pendaftaran dan semesteran itu?

Setelah berdiskusi dengan beberapa teman akrab, diputuskanlah untuk mengamen.

Sebagai informasi, sejak duduk di bangku SMA, saya memiliki beberapa teman akrab, dimana kami terus duduk sekelas. Sampai kuliah.

Untuk mengikat tali hubungan, kami pun membuat organisasi. Saya ditunjuk sebagai sekretaris. Tugasku mengurus keadministrasian.

Tidak hanya tempat kuliah, ngekos pun kami bareng. Jadi semakin kloplah kami. Saling membantu ketika dalam kesulitan.

Kesehari-harian teman-temanku itu mengamen untuk menyambung hidup. Dari situlah kami, termasuk saya sendiri, menyandarkan keperluan sehari-hari, misal makan, termasuk membayar kos-kosan.

Namun kenyamananku terusik. Saya merasa bahwa aktivitas mengamen sama dengan meminta-minta.

Akhirnya, ketika hendak naik ke semester tiga, kuputuskan untuk keluar kuliah. Terlebih mendapati kenyataan, saya tidak punya sama sekali uang guna membayar pendaftaran ulang dan semester lanjutan kuliah.

Merantau ke Jawa

Sedih itu sudah pasti, mendapati mimpi melanjutkan studi patah di tengah jalan. Tapi apa mau dikata, keadaan memaksa demikian.

Tapi yang menjadi peganganku, selama ada niat kebaikan, Allah akan menunjukkan jalan keluarnya. Meski saya sendiri tidak mampu menerka.

Dan benar. Selepas beberapa lama keluar dari kuliah dan sempat melabuhkan diri di sebuah pesantren di Maluku, tanpa diduga, Allah mempertemukan saya dengan seorang ustadz asal Jawa, yang aktif di salah satu organisasi Islam.

Panjang lebar kami mengobrol. Mungkin karena menangkap hasrat besar belajarku dalam diskusi ringan itu, pada akhirnya sang ustadz mengajukan tawaran kepadaku untuk melanjutkan kuliah di Jawa.

Katanya, di sana ormas tempatnya mengabdikan diri, menyediakan beasiswa full bagi mereka yang berprestasi. Mulai dari dana kuliah,  makan, hingga tempat tinggal.

Nyessss….

Rasanya lapang sekali dada mendapat kabar gembira itu. Terlebih, soal biaya keberangkatan, ustadz itu pun berujar hendak memberikan bantuan semampunya.

Mendengar itu, Saya benar-benar bahagia. Saya merasakan Allah benar-benar telah menunjukkan kuasa-Nya padaku, bahwa Dia akan senantiasa memberi kemudahan bagi setiap hamba-Nya yang mengharapkan kebaikan.

Singkat kisah. Setelah melalui berbagai tes yang diselenggarakan, Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus.

Saat ini saya masih duduk di semester awal. Perjalanan masih panjang. Mohon doa, semoga ilmu yang saat ini saya pelajari di institusi kesayanganku ini, bermanfaat bagiku, keluarga, dan umat Islam ke depannya. Amiin.* Sebagaimana yang dikisahkan Abdul Mujahid, asal Maluku, kepada Khairul Hibri

15 Metode Pembelajaran dan Teknik Mengajar Guru Masa Kini

Menjadi guru merupakan pekerjaan yang menuntut pembaharuan di setiap harinya. Pembaharuan tersebut tak hanya berdasarkan instrument dalam pengajaran, namun dituntut untuk cerdas pula mengkomparasikan instrument pengajaran dengan wawasan yang dimilikinya. Bagi mereka yang memang memiliki passion dalam dunia mengajar, tentu akan cerdik untuk selalu mencari metode pembelajaran terbaik yang bisa di aplikasikan kepada para muridnya yang berbeda di setiap harinya.

Bagi anda para guru dimanapun anda berada, berikut 15 Teknik Mengajar Guru Masa Kini dapat di terapkan kepada para murid dalam metode pembelajaran di kelas.

  1. Honesty
Description: Guru Mengajar

Pengajar wajib menanamkan sikap berani untuk menyatakan ketidaktahuan pada para siswannya. Dengan menanamkan sikap berani dalam menyatakan ketidaktahuan, maka para siswa secara tidak langsung diajarkan untuk berani mengakui kesalahan yang telah di perbuatnya. Tugas guru adalah memberikan semangat siswanya yang berani berkata tidak tau daripada harus mempermalukan siswanya di depan kelas ketika ia tidak bisa. Namun perlu diingat, pemberian apresiasi tersebut haruslah di lakukan dengan cara yang tepat, tidak seolah-olah menyetujui semua siswa yang sedikit-sedikit tidak tahu, karena hal tersebut juga berdampak pada matinya kreativitas siswa untuk mengmbil resiko setiap apa yang dilakukan.

  1. Commenting On Student Question
Description: https://i2.wp.com/www.psikoma.com/wp-content/uploads/2016/08/14.png?resize=640%2C435

Jangan membiarkan siswa menjawab tanpa diberikan apresiasi yang baik, walaupun siswa tersebut menjawab pertanyaan yang diajukan tersebut salah. Karena mereka yang telah berani menjawab pertanyaan, berarti memiliki value lebih dibandingkan rekan-rekannya yang lain yang tidak berani menjawab. Apresiasi tersebut tak melulu berbentuk barang, ataupun sanjungan, namun dengan memberikan komentar bijak dan baik pun menjadi salah satu apresiasi yang sangat berguna bagi siswa itu sendiri, ataupun siswa yang lainnya.

  1. Question & Answer Method
Description: https://i2.wp.com/www.psikoma.com/wp-content/uploads/2016/08/13-1.png?resize=640%2C435

Dikala suasana kelas lagi bête, ngebosenin tentu membuat tensi darah pengajar beku, hingga bingung tak menentu. Salah satu metode pembelajaran yang dapat dilakukan untuk mencairkan suasana namun tetap apik adalah mengajukan pertanyaan. Pertanyaan dapat dilakukan dengan cara yang tak biasa, sehingga menarik perhatian siswa. Cara bertanya seperti dengan mengungkapkan fenomena terupdate yang dikomparasikan dengan pembelajaran adalah metode ampuh yang dapat diterapkan. Teknik bertanya ini berguna untuk menarik perhatian siswa dan membuatnya bergairah untuk menerima informasi selanjutnya. Jangan biasakan tetap menerabas membaca buku teks, padahal siswa di belakang sudah tergeletak kepalanya di atas meja, karena mendengarkan khotbah ilmu monoton yang anda peragakan.

  1. Focus & Point Basis
Description: https://i1.wp.com/www.psikoma.com/wp-content/uploads/2016/08/12-1.png?resize=640%2C435

Terkadang metode pembelajaran yang menerapkan slide dalam menjelaskan materi, tujuan awalnya adalah untuk membantu siswa untuk memahami apa yang di khotbahkan. Namun yang terjadi saat ini, media power point yang di berikan guru justru malah menjadi buku teks di dinding. Banyak dari guru yang mencampurkan banyak sekali tulisan, yang sebenarnya bisa di baca sendiri oleh para siswanya. Yang lebih anehnya, sebagian guru mejelaskan materi juga membaca buku. Lantas buat apa power point tersebut? Menggunakan power point cobalah fokus terhadap intin dari point yang ada, dengan mengkomparasikan beberapa video singkat atau musik, karena hal tersebut sangat bermanfaat untuk membangkitkan gairah siswa yang tengah bosan mendengarkan materi dari pagi hingga sore.

  1. Self Reflection
Description: https://i0.wp.com/www.psikoma.com/wp-content/uploads/2016/08/11-2.png?resize=640%2C435

Mempersilahkan siswa menjawab pertanyaan yang dilontarkan siswa tersebut untuk membantunya mengasah pola pikir. Selain membantu mengasah pola pikir siswa, metode ini juga berguna untuk mendidik siswa untuk ikut serta memberikan solusi dari sebuah masalah yang ia ajukan. Fungsi guru adalah sebagai penuntun dan pembimbing jika jawaban dari apa yang ia ajukan sendiri tidak tepat.

Menjadi guru merupakan pekerjaan yang menuntut pembaharuan di setiap harinya. Pembaharuan tersebut tak hanya berdasarkan instrument dalam pengajaran, namun dituntut untuk cerdas pula mengkomparasikan instrument pengajaran dengan wawasan yang dimilikinya. Bagi mereka yang memang memiliki passion dalam dunia mengajar, tentu akan cerdik untuk selalu mencari teknik terbaik yang bisa di aplikasikan kepada para muridnya yang berbeda di setiap harinya.

Bagi anda para guru dimanapun anda berada, berikut ini merupakan salah satu teknik yang dapat di terapkan kepada para murid dalam teknik pembelajaran di kelas.

  1. Reasoning & Argumentation
Description: Mengenal Teknik Mengajar Guru Masa Kini

Menjabarkan alasan dari suatu materi yang dianggap sulit agar siswa semakin paham. Dengan menerapkan langkah ini, akan membuat murid paham secara menyeluruh dari materi yang disampaikan oleh guru di depan kelas. Pentng sekali untuk menggunakan reasoning argumentation dalam menjelaskan materi-materi sulit, karena apabila materi sulit tak di jabarkan secara mendalam dengan berbagai alasan dan argumentasi valid di lapangan, membuat siswa menganggap anda omong besar yang hanya anda ketahui sendiri.

  1. Picture & Group Technology
Description: https://i1.wp.com/www.psikoma.com/wp-content/uploads/2016/08/9-12.png?resize=640%2C435

Di jaman modern yang serba digital saat ini, tentu pembelajaran yang masih menggunakan cara kuno, hanya sekedar khotbah satu arah akan sangat mubadzir tenaga, bagi guru itu sendiri. Mungkin niat kebaikan tanpa tulus ikhlas ingin mencerdaskan anak bangsa melalui khotbah satu arah tersebut tidaklah salah, namun penting untuk memahami karakter anak yang mengikuti perkembangan zaman. Ya Mengajar menggunakan bantuan media gambar atau tulisan merupakan salah satu ikhtiar seorang guru berinovasi dalam pembelajaran. Maka sangat dianjurkan bagi para guru, atau bahkan dosen segaligus melek tekhnologi, atau jika tidak bisa mintalah bantuan pada rekan anda yang sedikit paham pada tekhnologi untuk menyiapkan materi.

  1. Body Language
Description: https://i1.wp.com/www.psikoma.com/wp-content/uploads/2016/08/8-10.png?resize=640%2C435

Dengan memanfaatkan body language yang tepat dan ekspresif sangat bermanfaat dalam memahamkan siswa terhadap materi yang disampaikan. Dengan menggunakan body language yang pas dan tepat bahkan sedikit atraktif, memudahkan siswa dalam mengembangkan imajinasinya terhadap apa yang dijelasakan oleh guru di depan. Selain itu dengan memanfaatkan body language, berfungsi dalam menarik perhatian para siswa/ siswi. Menggunakan gerakan-gerakan tubuh supaya penyampaian lebih jelas, menarik perhatian siswa serta mudah untuk diingat.

  1. Teaching Motivating
Description: Mengenal Teknik Mengajar Guru Masa Kini

Model ini merupakan model yang dikembangkan oleh John M. Keller, dari Florida State University pada tahun 1983-1987. Model ini pun memiliki empat strategi pokok di dalamnya untuk memotivasi pembelajaran yaitu; Attention yang berkaitan dengan pemeliharaan terhadap minat, keingintahuan, dan juga perhatian.

  1. Analogy & Case Study
Description: Mengenal Teknik Mengajar Guru Masa Kini

Mengajar dengan memberikan contoh studi kasus berdasarkan hal-hal yang ada di sekitar. Dengna melakukan analogi dan study kasus secara tepat, siswa akan mudah untuk membayangkan kegunaan materi yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari. Hindari penggunaan analogy ataupun case study yang asing bagi siswa. Karena hal itu malah justru semakin membingungkan para siswa menerima materi.

Menjadi guru merupakan pekerjaan yang menuntut pembaharuan di setiap harinya. Pembaharuan tersebut tak hanya berdasarkan instrument dalam pengajaran, namun dituntut untuk cerdas pula mengkomparasikan instrument pengajaran dengan wawasan yang dimilikinya. Bagi mereka yang memang memiliki passion dalam dunia mengajar, tentu akan cerdik untuk selalu mencari teknik terbaik yang bisa di aplikasikan kepada para muridnya yang berbeda di setiap harinya.

Bagi anda para guru dimanapun anda berada, berikut ini merupakan salah satu teknik yang dapat di terapkan kepada para murid dalam teknik pembelajaran di kelas.

  1. Story Telling
Description: Mengenal Teknik Mengajar Guru Masa Kini

Mengajar dengan cara seperti orang bercerita sehingga siswa tertarik dan mudah memahami. Dengan cara ini anda memiliki keunggulan untuk menarik interest para siswa. Dengan alur cerita yang cerdik dan apik bahkan secara tidak langsung anda dapat menghipnotis para siswa agar mereka antusias memperhatikan setiap materi yang anda ucapkan.

  1. Discussion & Feedback
Description: Mengenal Teknik Mengajar Guru Masa Kini

Dengan melakukan diskusi akan sangat membantu dalam melibatkan siswa-siswa yang selama ini kurang aktif ketika di dalam kelas. Selain itu di tengah diskusi yang dilakukan para siswa, berilah feedback hasil dari diskusi mereka. Memberikan jawaban dengan membuat contoh yang mudah dipahami oleh siswa, juga salah satu dari feedback yang dapat dilakukan.

  1. Scanning & Levelling
Description: Mengenal Teknik Mengajar Guru Masa Kini

Memahami bahwasanya setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda, sehingga setiap siswa tidak dapat di berikan metode yang sama. Oleh sebab itu cobalah cara mengajar dengan memahami dan menyesuaikan dengan tingkat kecerdasan para siswa

  1. Applied Learning
Description: Mengenal Teknik Mengajar Guru Masa Kini

Menggunakan metode praktek yang dicontohkan oleh guru dan kemudian dilakukan sendiri oleh siswa. Cara ini adalah pengapliasian yang mampu untuk mempertahankan informasi yang telah di berikan pada siswa dalam memorinya.

  1. Active Interaction
Description: Mengenal Teknik Mengajar Guru Masa Kini

Mengajar sembari aktif berinteraksi dengan siswa, seperti melakukan kontak mata, mengatur nada bicara, dan lain-lain. Dengan begitu kedekatan dan ikatan emosional antara siswa dan guru juga akan terjalin dengan baik. 

By: Muhamad Fadhol Tamimy

Bersahabat Dengan Anak

Penulis : Hari Pudjiantoro
Penerbit : Al-Azhar Press
Cetakan : I, Januari 2014
Tebal : 152 halaman

Masa lalu tak perlu disesali, kesalahan tak perlu diulangi, kenyataan yang terjadi cukup diintrospeksi untuk selanjutnya dievaluasi, agar ke depannya menjadi lebih baik. Memiliki anak yang sulit dikendalikan memang menguras emosi, namun dalam prosesnya, anak menjadi sangat menjengkelkan kedua orang tuanya ini pun menempuh proses yang panjang. Tidak ada serta merta ketika buah hati baru lahir, langsung memiliki sifat menjengkelkan. Pada fitrahnya, tidak ada anak yang bermasalah, melainkan berasal dari kedua orang tuanya yang bermasalah. Hitam, putih, merah, abu-abu adalah karya lukisan orang tuanya

Pertanyaan orang tua yang sering muncul adalah, “mengapa atau proses seperti apa yang telah terjadi sehingga menghasilkan anak kita tidak sesuai dengan harapan?” sebelum menjawab, saya akan bertanya terlebih dahulu kepada ayah/bunda, “apa sebenarnya yang ayah bunda harapkan dari anak?? Apakah ayah/bunda menginginkan anaknya harus berbakti kepada orang tua, selalu menurut apa saja yang diperintahkan orang tua??”

Jabatan menjadi orang tua, SK-nya langsung ditandatangani oleh Sang Maha Pencipta, berbakti kepada orang tua merupakan salah satu perintah Sang Pencipta kepada setiap anak. Bukan karena perintah orang tua kepada anaknya. Mari kita kembalikan kepada posisi yang sebenarnya. Tidak usah kecewa jika anak tidak berbakti kepada orang tuanya. Tapi bersedihlah, ketika kita gagal mengantarkan anak-anak kita kenal dengan Penciptanya. Ketika anak berhasil dengan baik kenal dengan zat yang menciptakan dirinya, otomatis berbakti kepada orang tuapun dengan ikhlas dia kerjakan. Tanpa diperintah orang tuanya. Itulah tugas utama orang tua, mengantarkan anaknya mengenal Penciptanya.

“Bersahabat dengan Anak” itulah kata kuncinya. Layaknya seorang sahabat, bahwa sahabat adalah orang yang nyaman untuk berbagi cerita, orang yang dapat memahami isi hati kita, dan orang yang mau memberikan solusi yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, mari ayah/bunda mulailah rebut hati anak-anak kita, tidak ada kata terlambat. Jadilah sahabat terbaiknya, ikuti perkembangan psikologinya, arahkan ia untuk melihat gambaran kehidupan yang kelak akan dia temukan. Ambilah hikmah perjalanan hidup yang sudah kita tempuh, untuk dijadikan referensi masa depan buah hati kita. Kenalkan segala rasa yang terjadi dalam kehidupan, baik rasa sakit, senang, berhasil, susah, sedih dan lain sebagainya, serta arahkan untuk selalu mencari solusi dari Sang Maha Pembuat Rasa tersebut, karena Dialah Sang Pemilik Kehidupan.

Itulah sekelumit isi pada buku “BERSAHABAT DENGAN ANAK”, dengan bahasa yang santai dan contoh kasus yang sering terjadi memudahkan ayah/bunda membayangkan dan mencerna isi buku ini. Buku ini sangat disarankan untuk dibaca oleh orang tua, guru, ataupun remaja. Mengapa remaja? Karena status remaja masih sebagai anak yang akan bersahabat dengan orang tuanya, dan juga remaja kelak akan menjadi orang tua yang siap bersahabat dengan anaknya.

Penulis sangat berharap, jika pembaca merasakan manfaat dari isi buku ini, untuk meminjamkan atau menghadiahi teman atau saudara yang lainnya. Agar semakin banyak orang yang akan merasakan manfaatnya. Silahkan follow twitter @generasiSAKTI untuk mendapatkan tips yang lainnya.

Tips menghadapi Ujian Nasional (UN) 2020

Semua pelajar pasti memiliki rasa takut ketika berhadapan dengan yang namanya Ujian Nasional, karena ujian inilah yang menentukan hasil belajar kita selama bertahun-tahun untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Selama 6 tahun (SD), 3 Tahun (SMP dan SMA) kita belajar, menuntut ilmu, namun segiat-giatnya kita belajar selama bertahun-tahun itu, tapi nasib kelulusan dan kepandaian kita harus ditentukan dengan beberapa hari saja melalui ujian nasional. Memang rasanya tidak adil.

Namun, itulah tantangan yang harus kita lewati, karena memang sudah dari dahulu kalanya seperti itu. Dengan kondisi seperti ini, dalam diri kita pastilah ada semacam kekhawatiran berlebihan dalam menghadapi ujian nasional yang justru hal tersebut akan merusak mental dan otak kita karena semuanya itu tergantung pada pikiran kita. Ingat bahwa pikiran adalah kunci dari segala sesuatu yang akan kita lakukan. Berikut ini adalah beberapa langkah yang harus diperhatikan untuk menghadapi UN yang akan kita hadapi, mari kita lihat kiat-kiat apa saja dalam menghadapi UN supaya sukses:

  • Jagalah kesehatan lahir dan batin
  • Badan kita harus sehat, tidak ada tekanan apapun, emosi harus stabil, agar pikiran tidak terbagi, konsentrasi dan fokus pada ujian
  • Persiapkan perlengkapan ujian, seperti pensil 2B, penghapus, kartu peserta, harus selalu dibawa jangan sampai terlupa
  • Persiapkan materi ujian jauh hari, perbanyak latihan soal dan usahakan dapat menjawab/mengerjakan soal-soal UN 3 tahun yang lalu (soal UN tidak akan jauh dari tahun-tahun yang lalu)

Pada Saat Pelaksanaan Ujian Nasional :

  • Berdoa sebelum mengerjakan soal.
  • Isi data atau identitas anda dengan benar.
  • Konsentrasi dan terfokus pada soal ujian.
  • Usahakan untuk menghargai waktu saat ujian berlangsung
  • Kerjakan soal dengan tenang dan jawab soal yang mudah terlebih dahulu, jangan sekali-kali melihat keseluruhan soal, apalagi memikirkan soal yang sulit. Bisa-bisa soal yang mudah tidak terselesaikan karena waktu habis untuk menyelesaikan soal yang sulit.
  • Pastikan tidak melanggar tata tertib ujian.
  • Berusaha dan berdoa agar lulus ujian.

Mendikbud Tetapkan Empat Pokok Kebijakan Pendidikan “Merdeka Belajar”

Jakarta, Kemendikbud — Menindaklanjuti arahan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, menetapkan empat program pokok kebijakan pendidikan “Merdeka Belajar”. Program tersebut meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.

“Empat program pokok kebijakan pendidikan tersebut akan menjadi arah pembelajaran kedepan yang fokus pada arahan Bapak Presiden dan Wakil Presiden dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” demikian disampaikan Mendikbud pada peluncuran Empat Pokok Kebijakan Pendidikan “Merdeka Belajar”, di Jakarta, Rabu (11/12).

Arah kebijakan baru penyelenggaraan USBN, kata Mendikbud, pada tahun 2020 akan diterapkan dengan ujian yang diselenggarakan hanya oleh sekolah. Ujian tersebut dilakukan untuk menilai kompetensi siswa yang dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis atau bentuk penilaian lainnya yang lebih komprehensif, seperti portofolio dan penugasan (tugas kelompok, karya tulis, dan sebagainya). “Dengan itu, guru dan sekolah lebih merdeka dalam penilaian hasil belajar siswa. Anggaran USBN sendiri dapat dialihkan untuk mengembangkan kapasitas guru dan sekolah, guna meningkatkan kualitas pembelajaran,” terang Mendikbud.

Selanjutnya, mengenai ujian UN, tahun 2020 merupakan pelaksanaan UN untuk terakhir kalinya. “Penyelenggaraan UN tahun 2021, akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter, yang terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter,” jelas Mendikbud.

Pelaksanaan ujian tersebut akan dilakukan oleh siswa yang berada di tengah jenjang sekolah (misalnya kelas 4, 8, 11), sehingga dapat mendorong guru dan sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran. Hasil ujian ini tidak digunakan untuk basis seleksi siswa ke jenjang selanjutnya. “Arah kebijakan ini juga mengacu pada praktik baik pada level internasional seperti PISA dan TIMSS,” tutur Mendikbud.

Sedangkan untuk penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Kemendikbud akan menyederhanakannya dengan memangkas beberapa komponen. Dalam kebijakan baru tersebut, guru secara bebas dapat memilih, membuat, menggunakan, dan mengembangkan format RPP. Tiga komponen inti RPP terdiri dari tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan asesmen. “Penulisan RPP dilakukan dengan efisien dan efektif sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk mempersiapkan dan mengevaluasi proses pembelajaran itu sendiri. Satu halaman saja cukup,” jelas Mendikbud.

Dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB), Kemendikbud tetap menggunakan sistem zonasi dengan kebijakan yang lebih fleksibel untuk mengakomodasi ketimpangan akses dan kualitas di berbagai daerah. Komposisi PPDB jalur zonasi dapat menerima siswa minimal 50 persen, jalur afirmasi minimal 15 persen, dan jalur perpindahan maksimal 5 persen. Sedangkan untuk jalur prestasi atau sisa 0-30 persen lainnya disesuaikan dengan kondisi daerah. “Daerah berwenang menentukan proporsi final dan menetapkan wilayah zonasi,” ujar Mendikbud.

Mendikbud berharap pemerintah daerah dan pusat dapat bergerak bersama dalam memeratakan akses dan kualitas pendidikan “Pemerataan akses dan kualitas pendidikan perlu diiringi dengan inisiatif lainnya oleh pemerintah daerah, seperti redistribusi guru ke sekolah yang kekurangan guru,” pesan Mendikbud.

Pada kesempatan ini, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy memberikan apresiasi kepada Mendikbud atas gagasan “Merdeka Belajar”. “Kami mendukung inisiatif Kemendikbud mengangkat gagasan tersebut. Dengan kebijakan ini guru dapat lebih fokus pada pembelajaran siswa dan siswa pun bisa lebih banyak belajar. Mari kita semua bersikap terbuka dan optimis dalam menyongsong perubahan ini,” pungkas Menko PMK. *

Info lebih lanjut mengenai empat pokok kebijakan merdeka belajar : https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/12/empat-pokok-kebijakan-merdeka-belajar